Nama : Gian Eka Prabaswara
Kelas / NIM : KM-41-04 / 1502170307
Selamat pagi menjelang siang, teman-teman. Kali ini saya akan menuliskan review terkait dengan hasil seminar yang saya hadiri yang diselenggarakan oleh KOMPAS.ID pada hari Kamis, 3 Mei 2018. Talkshow yang diselenggarakan di Aula Lt. 5 Gd. Sebatik atau Fakultas Industri Kreatif Telkom University ini mengangkat tema menarik yaitu "HOAKS VS JURNALISME PRESISI", beberapa hari lalu. Seminar ini membahas tentang Hoaks dan Jurnalisme Presisi. Seminar ini dihadiri oleh dua orang pembicara yang ahli dengan pembahasan pada seminar itu. Pembicara tersebut adalah Ismail Fahmi sebagai Founder - Media Kernels Indonesia - HOAX Expert (Founder Drone Empirt) dan Sutta Dharmasaputra sebagai Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas.
Sebelum itu, kita harus tau tentang apa yang dibahas pada seminar itu. Seperti yang kita tahu, berita hoax tersebar lebih luas daripada berita yang benar dan untuk mengklarifikasinya juga sangat lambat. Contohnya Calon PILKADA DKI 2017 menggunakan twitter untuk membuat hoax dan saling menjatuhkan lawan satu sama lain dalam skala nasional dan internasional. Dan di Platform yang lainnya seperti Line today, sebuah platform berita yang disediakan oleh Line yang mencangkup berita politik, kehidupan sehari-hari, entertaiment, dan berita olahraga, juga tidak bisa langsung kita percaya, kita harus tetap mengkaji ulang, mencari sumber lain, dan melihat kenyataannya supaya kita tidak terkena hoax. Hoax membuat kita menjadi tidak berfikir tentang sains, teknologi, dan lain-lain.
Hoax adalah sebuah informasi atau berita yang kebenarannya tidak jelas atau tidak betul. Sedangkan Jurnalisme presisi pertama kali dikemukakan oleh Philip Meyer pada tahun 1969-1970. Salah satu contoh dari jurnalisme presisi adalah ketika sebuah media massa menampilkan poling dari suatu pemilihan presiden, dan semacamnya.
Sekian tulisan saya kali ini, pada tulisan saya ini saya tidak merendahkan siapapun dan tidak menyinggung siapapun dan pihak manapun. Saya meminta maaf jika ada pihak yang tersinggung.
Terima Kasih
Kelas / NIM : KM-41-04 / 1502170307
Selamat pagi menjelang siang, teman-teman. Kali ini saya akan menuliskan review terkait dengan hasil seminar yang saya hadiri yang diselenggarakan oleh KOMPAS.ID pada hari Kamis, 3 Mei 2018. Talkshow yang diselenggarakan di Aula Lt. 5 Gd. Sebatik atau Fakultas Industri Kreatif Telkom University ini mengangkat tema menarik yaitu "HOAKS VS JURNALISME PRESISI", beberapa hari lalu. Seminar ini membahas tentang Hoaks dan Jurnalisme Presisi. Seminar ini dihadiri oleh dua orang pembicara yang ahli dengan pembahasan pada seminar itu. Pembicara tersebut adalah Ismail Fahmi sebagai Founder - Media Kernels Indonesia - HOAX Expert (Founder Drone Empirt) dan Sutta Dharmasaputra sebagai Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas.
Sebelum itu, kita harus tau tentang apa yang dibahas pada seminar itu. Seperti yang kita tahu, berita hoax tersebar lebih luas daripada berita yang benar dan untuk mengklarifikasinya juga sangat lambat. Contohnya Calon PILKADA DKI 2017 menggunakan twitter untuk membuat hoax dan saling menjatuhkan lawan satu sama lain dalam skala nasional dan internasional. Dan di Platform yang lainnya seperti Line today, sebuah platform berita yang disediakan oleh Line yang mencangkup berita politik, kehidupan sehari-hari, entertaiment, dan berita olahraga, juga tidak bisa langsung kita percaya, kita harus tetap mengkaji ulang, mencari sumber lain, dan melihat kenyataannya supaya kita tidak terkena hoax. Hoax membuat kita menjadi tidak berfikir tentang sains, teknologi, dan lain-lain.
Hoax adalah sebuah informasi atau berita yang kebenarannya tidak jelas atau tidak betul. Sedangkan Jurnalisme presisi pertama kali dikemukakan oleh Philip Meyer pada tahun 1969-1970. Salah satu contoh dari jurnalisme presisi adalah ketika sebuah media massa menampilkan poling dari suatu pemilihan presiden, dan semacamnya.
Sekian tulisan saya kali ini, pada tulisan saya ini saya tidak merendahkan siapapun dan tidak menyinggung siapapun dan pihak manapun. Saya meminta maaf jika ada pihak yang tersinggung.
Terima Kasih